Be Creative!!! Don’t give up with your condition!
Correct!!! Not everyone in our environment satisfied with their condition, it’s can be understand coz we are living in 3rd world country, but pathetically Most of us if don’t satisfied with their condition they give up just like that! They don’t open their mind and find a new strategy to make their condition better… read my experience below and dig the meaning of it:
I’m gonna tell it with bahasa. Orang tua saya kerja di pos, dan biasanya orang yang kerja di perhubungan ga bakal bertahan di satu tempat dalam waktu yang singkat (baca: pindah-pindah) so do my father. Ga beberapa bulan belakangan ini ortu saya dipindah tugaskan ke Surabaya, dan kemarin pas lagi pindahan saya juga ikut pulang ke Surabaya (sekitar 3 hari yang lalu) gara-gara itu saya absent ER meeting dan EB meeting (atas seizing diah tentunya) meskipun lagi masa ujian, singkat kata di-surabaya saya sedikit menghibur diri jalan-jalan di surabaya dengan supir ayah saya (karena masih belum hafal) dan saya mengenal supir bapak saya dengan nama pak Parman, secara status saya sedikit men-underestimate dia, tapi hal ini berubah 180 derajat dalam semalam. saya menjadi kagum sekali dengan beliau!
Pulang ke semarag dengan menggunakan kereta saya diantar pak parman ke stasiun, karena perjalanan agak jauh dari Jl.Jawa ke pasarturi sekitar 30 menit saya ajak obrol pak parman ini, dan pembicaraan kemudian ke-arah anak-anak beliau, punya anak berapa pak? “Anak saya ada 4 sudah besar besar mas” jawab dia, kemudian aku nanya lagi “dimana anaknya sekarang” diapun bercerita panjang lebar “anak saya sudah jadi orang semua mas alhamdulilah, ada yang jadi auditor di sampurna Surabaya, ada yang jadi polisi, ada yang jadi manager di astra Surabaya, yang paling kecil masih SMA, semuanya sarjana S1, dan anaknya yang jadi manager juga lagi masa studi di S2” tutur beliau tanpa ada kesan sombong. Holly crap!!! This man trying to bullying me or something!?!? Secara posisi dia kayaknya agak berat kalo dia bisa membesarkan anak-anaknya bahkan sampe sarjana semua, ada yang S2 lagi!!
Saya pun berkomentar “wah..! hebat juga pak parman bisa menyekolahkan anak-anaknya tinggi-tinggi” diapun bercerita “syukurlah, saya dapet banyak rezeki dari usaha saya jual-beli pakaian, berat kalo mengandalkan profesi supir untuk mata pencharian” diapun bercerita mengenai bisnisnya yang saya pikir cukup banyak, mulai dari bisnisnya yang jual beli kain di Surabaya, dan dia sempat bercerita ketika krismon bisnis lain hancur dia melakukan strategi dengan menyewa designer dan membuat pelanggan bisa memesan dengan pesanan sendiri (it was differentiation in marketing) kemudian dia juga punya usaha rental mobil meskipun mobil yang disewakan baru satu buah yaitu esspass. Kemudian dia juga bercerita punya saham satu buah usaha rekannya di Surabaya juga!!! There I start to admire him so much!
Tapi ternyata cerita kerennya belum sampai disana saudara-saudara, dia sempat menjadi orang yang berjasa di kantor bapak saya, dialah pencetus divisi bus logistic di pos Indonesia, kembali dia bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya di posindonesia, ternyata di pos dulu hanya mengandalkan kereta dan pesawat sebagai transportasi luarkota, meskipun punya bis, alat transportasi tersebut hanya sebagai pelengkap. Misalnya hanya mengangkut surat dari satu kantor ke kantor lainnya, dari bandara ke kantorpos dll, tidak pernah digunakan langsung antarkota, kemudian beliau bercerita dulu bis pos kalo pas lagi ga sibuk banyak banget yang nganggur dikantor, kemudian pada saat itu (mungkin sense of entrepreneurship beliau gatel) beliau membuat proposal mengenai pemanfaatan bis sebagai sarana utama (bukan aksesoris lagi) dan sesuai dengan harapannya dibuatlah divisi teresebut, karena beliaulah pencetus ide ini, maka beliau sempat diangkat jadi pengurus di divisi tersebut (cuman kenapa sekarang masih jadi supir yah? I still wonder why, self actualism maybe).
Diapun bercerita jejeran redaksi pun pernah memberi dia penghargaan (saya sama pak bandi sampai seperti keluarga) pak bandi adalah salah seorang direksi pada saat itu)
Dan banyak orang heran kenapa seorang supir seperti dia bisa se-sukses orang yang se-level dengannya bahkan level diatasnya. But now I know why from his story.
Kami pun berbicara mengenai kondisi Ekonomi Indonesia (bayangkan!! Diskusi tingkat tinggi dengan seorang supir. Berarti dia cukup up to date soal ekonomi) diapun sempat menasehati saya agar jangan menjadi pegawai negri…! Katanya gaji-nya boro-boro buat nabung, cuman habis buat makan dan hidup. Dia menyarankan bikin usaha saja (wueiiiizzzzzz gue banget sih pak parman) kembali saya salut dengan pemikiran beliau sangat out of box! Kami pun kembali berbicara mengenai masalah ini sampai ke stadion pasar turi, seakan tidak mau menghabiskan waktu pembicaraan beberapa kilo sebelum ke stasion beliau sampat memperlambat jalannya sekedar mencuri waktu buat ngobrol.
Be creative…! Jangan hanya terpaku dengan kondisi kita sekarang, kalo ingin membaik, cari lah jalan lain yang bisa menunjang cita-cita anda, think out of box!!!
Merasa penasaran saya brtanya mengenai sepakterjang dia di pos, saya Tanya bapak saya dan memang benra!! Inilah pengusaha yang tidak berdasi, inilah orang-orang yang sungguh betul pengusaha diantara banyak diantara kita yang sok bergaya pengusaha tanpa ada usaha yang kongkrit (god, I’m afraid I’m one of them) I’m impressed with him, his story really inspiring me!
Besok februay ketika aku pulang lagi ke Surabaya I won’t consider him as a driver, but as my partner, I can’wait to go back to Surabaya to share with him again…!